Batas sabar dalam bermuammalah(bersosialisasi)
Kultum
H
Henny Purnianto
5 Mei 2026
3 menit baca
2 views
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَ...
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:
"وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ فَصَبَرُوا عَلَى مَا كُذِّبُوا وَأُوذُوا حَتَّى أَتَاهُمْ نَصْرُنَا وَلَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ وَلَقَدْ جَاءَكَ مِنْ نَبَإِ الْمُرْسَلِينَ" (سورة الأنعام: 34)
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي
Hadirin sekalian yang berbahagia,
Jalan setapak tak selalu rata,
Datang badai cobaan menerpa.
Ada kalanya hati terasa beku,
Saat bersua dengan orang yang tak setuju.
Saudara-saudari seiman yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala. Pernahkah kita merasa lelah, jenuh, bahkan mungkin terluka, karena interaksi kita dengan sesama? Bertetangga, bekerja, berteman, berinteraksi dalam keluargapun, pasti ada kalanya kita dihadapkan pada perbedaan pendapat, perilaku yang kurang menyenangkan, bahkan mungkin fitnah dan kedzaliman. Inilah hakikat bermuamalah, bersosialisasi di dunia yang penuh warna ini.
Kita tentu teringat pesan mulia Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam:
"أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ" (Muttafaq 'alaih)
"Ingatlah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pulalah seluruh tubuh, dan jika ia buruk, maka buruk pulalah seluruh tubuh. Ingatlah, dia adalah hati."
Jantung hati kitalah yang menjadi penentu. Sabar dalam bermuamalah bukanlah berarti pasrah tanpa batas, membiarkan diri dizalimi atau terjerumus dalam kemaksiatan karena terpengaruh lingkungan. Sabar memiliki batas yang jelas, batas yang dicontohkan oleh para nabi dan rasul.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an, Surat Al-A'raf ayat 199:
"خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ"
"Ambillah maaf, perintahkanlah yang ma'ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh."
Ayat ini mengajarkan kita untuk mengambil jalan tengah. Memaafkan adalah keutamaan, namun bukan berarti kita mengabaikan tanggung jawab untuk amar ma'ruf (menyeru kepada kebaikan). Dan tentu, kita diperintahkan untuk berpaling dari orang-orang jahil (yang bodoh, berbuat semaunya tanpa adab). Poin ketiganya, berpaling dari kejahilan, inilah batasnya. Kita tidak bisa terus-menerus menghadapi keburukan tanpa melindungi diri dan akal sehat kita.
Para sahabat bertanya kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang bagaimana menghadapi orang yang menyakiti mereka, seraya bertanya, "Wahai Rasulullah, sungguh kami menghadapi orang-orang yang menyakiti kami." Beliau bersabda:
"اصْبِرُوا، حَتَّى يَأْتِيَكُمْ اللهُ بِالْفَرَجِ" (HR. Muslim)
"Bersabarlah, sampai Allah mendatangkan pertolongan-Nya kepadamu."
Ini adalah sabar dalam menghadapi ujian, bukan sabar dalam merespon kezaliman dengan kezaliman yang sama atau lebih buruk.
Imam Syafi'i rahimahullah pernah berkata, "Ada dua jenis kesabaran: sabar atas apa yang kamu benci, dan sabar menahan diri dari apa yang kamu cintai." (Dinukil dari berbagai sumber)
Artinya, kita harus sabar menahan diri dari keinginan buruk yang datang, dan juga sabar menerima takdir yang tak sesuai harapan. Namun, jika yang kita benci adalah kezaliman terhadap diri kita atau umat, maka perlindungan diri dan penegakan kebenaran dengan cara yang dibenarkan syariat adalah sebuah keniscayaan. Batas sabar adalah ketika kita harus menjaga prinsip dan kehormatan diri serta agama.
Saudaraku, jangan biarkan hati kita menjadi batu yang tak merasakan kepekaan, tapi juga jangan biarkan ia menjadi lilin yang mudah padam hanya karena sedikit tiupan. Sabarlah jika itu akan membersihkan jiwa dan mendekatkan diri kepada Allah. Namun, beranilah menjaga prinsip dan kebenaran jika kesabaran itu justru menjerumuskan kita pada keburukan. Jadikanlah sabar itu sebagai perisai, bukan sebagai jurang kehancuran.
Mari kita bertekad untuk senantiasa memohon perlindungan kepada Allah agar diberi kesabaran yang benar dan taufiq untuk menempatkan batas itu dengan bijak. Semoga Allah senantiasa membimbing lisan dan hati kita dalam bermuamalah.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ